Wednesday, September 21, 2016

"LAW OF ATTRACTION" - KESESATAN KUNO DALAM KEMASAN NODERN

Anda pernah dengar istilah “Law of Attraction”? Secara harafiah diterjemahkan sebagai “Hukum Tarik-Menarik”, juga dikenal sebagai “The Secret” (Rahasia), atau “New Thought” (Gagasan Baru), istilah ini mengacu pada suatu gagasan bahwa kita selaku pribadi memiliki hubungan dengan suatu “sumber energi universal”, dan bahwa pikiran dan perasaan kita memiliki kemampuan untuk memanipulasi “energi universal” ini sesuai keinginan kita. Menurut “Law of Attraction”, pikiran dan perasaan kita dapat menarik energi positif ataupun negatif, tergantung pada apa yang kita pikirkan atau rasakan, entah positif atau negatif. Ide dasar yang terkandung dalam “Law of Attraction” adalah bahwa kita semua punya kemampuan untuk menentukan takdir dan masa depan kita sendiri, menciptakan kenyataan hidup kita sendiri, menjadi dan memiliki apapun yang kita inginkan, dengan cara menerapkan konsep “Law of Attraction” ini di dalam pikiran kita sepenuhnya secara konsisten, terus menerus.

Definisi Google tentang “Law of Attraction” adalah: “suatu kepercayaan bahwa “suka menarik suka” (like attracts like), dan bahwa dengan berfokus pada pikiran-pikiran yang positif ataupun negatif, seseorang dapat mencapai hasil yang juga positif atau negatif”. Melalui penyelidikan lebih mendalam atas kepercayaan ini, dapat terungkap bahwa “Law of Attraction“ berakar pada kepercayaan bahwa manusia dan  pikirannya terdiri dari energi murni yang dapat menarik energi yang sama.

Istilah “Law of Attraction” sendiri baru muncul dan mulai digunakan pada akhir 1800-an, tapi mulai populer melalui film “The Secret” (2006). dan sebuah buku yang diterbitkan dengan judul yang sama, di mana diajarkan bahwa “apapun yang diinginkan atau diperlukan seseorang dapat terpuaskan dengan mempercayai suatu akibat, dengan memikirkannya berulang-ulang, dan mempertahankan suatu kondisi emosional yang positif demi “menarik” akibat yang diinginkan itu”.

Harus diakui, ada “sedikit” kebenaran di dalam “Law of Attraction” ini, walau sayangnya pada perkembangannya menjadi tidak alkitabiah dan juga tidak logis. Misalnya, ia mengajarkan bahwa pikiran positif ataupun negatif kita dapat mempengaruhi kesehatan fisik kita. Ini memang benar, dan ilmu kedokteran pun telah membuktikannya, karena stress dan kecemasan yang berkelanjutan memang berpengaruh buruk pada kesehatan, sementara kegembiraan dan suasana hati yang damai dapat mempercepat penyembuhan dari suatu penyakit. Bahkan jauh sebelum ilmu kedokteran modern, Alkitab sudah menyatakan hal ini (misalnya Amsal17:22). Namun hal ini terjadi oleh karena memang demikianlah cara Allah merancang tubuh kita, dan bukan karena adanya “hubungan” antara kita dengan suatu “energi universal”, atau adanya tarik-menarik antara pikiran positif atau negatif kita dengan “hasil” positif atau negatif yang mempengaruhi kita secara fisik.

Kesalahan kedua dari “Law of Attraction” adalah penekanannya pada harta kekayaan. Alkitab banyak berbicara mengenai kekayaan dan cara mengelolanya (Amsal 13:11, 17:16, 22:7, dll.). Pencapaian finansial kita adalah melalui kerja keras disertai pengelolaan keuangan secara bijaksana. Satu-satunya pengaruh nyata dari “pemikiran positif” adalah untuk mendorong kita bekerja lebih keras dan lebih berhati-hati dalam hal pengeluaran.Sesungguhnya, memusatkan pikiran semata-mata pada kekayaan justru bertentangan dengan ajaran Alkitab (Pengkhotbah 5:10, Lukas 12:15, 2Timotius 6:10).

Kesalahan mendasar dari “Law of Attraction” adalah pandangannya mengenai Allah. Baginya, Allah (kalaupun Ia ada) tak lebih dari suatu “energi universal” yang dapat dimanipulasi oleh pikiran ataupun perasaan kita. Pandangan “Law of Attraction” tentang Allah pada dasarnya bersifat panteistik (semua adalah Allah), dan menolak konsep tentang Allah sebagai satu Pribadi yang Berdaulat dan mengendalikan segala sesuatu; sebaliknya, konsep “Law of Attraction” adalah bahwa kitalah yang mengendalikan hidup kita sendiri dalam segala seginya. Alkitab justru mengajarkan sebaliknya (Mazmur 139:16, Daniel 4:34-35).

Bahkan ada sebuah situs pro “Law of Attraction” yang mencoba menerapkan konsep (yang seolah-olah) alkitabiah, dan menerangkan bahwa konsep “Law of Attraction” itu sendiri sebenarnya bersumber dari Alkitab! Situs ini antara lain mengutip kata-kata Tuhan Yesus dalam Markus 11:24 dan menafsirkannya sebagai memuat konsep “Law of Attraction”. Juga ajaran-ajaran Tuhan Yesus lainnya mengenai kuasa doa dan iman, sebenarnya tidak lain adalah konsep “Law of Attraction” juga. Penyesatan yang nyaris sempurna! “Nyaris”, karena situs ini sama sekali tidak mengutip ayat semacam Yakobus 4:3, yang secara gamblang menyatakan bahwa doa yang sangat terkonsentrasi sekalipun, penuh “iman” sekalipun, takkan berbuah apa-apa jika bertentangan dengan kehendak Allah.

Dalam pandangan “Law of Attraction”, kita semua adalah “inkarnasi Allah”, bahkan kita adalah allah-allah bagi diri kita sendiri, yang mampu mengendalikan kenyataan dan masa depan kita sendiri. Kebohongan ini bukanlah suatu hal baru, bahkan inilah kebohongan pertama dan utama yang dipakai iblis untuk menyesatkan manusia. yakni bahwa manusia mampu mencapai “pengetahuan” yang menjadikannya sama seperti Allah (Kejadian 3:5). Bahkan iblis sendiri jatuh karena hal yang sama (Yesaya 14:13-14, Wahyu 20:10).

Konsep dari kekuatan pikiran yang diajarkan “Law of Attraction” ini bukanlah hal baru. Kisah di dalam Kejadian3:1-5 mengacu kepada konsep ini. Yang “ditawarkan” iblis kepada Hawa adalah semacam pengetahuan supranatural, yang kita ketahui kemudian ternyata berubah menjadi kutukan yang mendatangkan maut bagi manusia. Pertanyaannya adalah: benarkah manusia memiliki kekuatan di dalam pikirannya yang dapat menyebabkan perubahan secara supranatural?

Atas pertanyaan ini, Alkitab memberi jawab demikian: Segala kuasa ditentukan oleh Allah dan tunduk pada Allah (Ayub 1:12, Mazmur 147:5, Matius 28:18, Yohanes 19:11, Roma 8:38-39, 13:1, Efesus 3:1-12, Kolose 1:13-17, 2:15, 1 Petrus 3:22, Yudas 1:25). Pikiran manusia tidak memiliki kekuatan supranatural apapun pada dirinya sendiri (Ulangan8:14-18, Lukas 8:22-25, Efesus 2:1-7, 6:10-13, 2 Petrus 1:3).  Segala kuasa manusia hanya dapat diperolehnya dari Allah (Mazmur 68:35, Amsal 3:27, Pengkhotbah5:19, Yesaya 40:27-31, Zakharia 4:6, Markus 6:7, Lukas 24:49, Yohanes 1:12, Kisah 1:7-8).

Walaupun demikian, “Law of Attraction” mengajarkan baik secara terbuka maupun secara rahasia, hal-hal seperti: meditasi (terpisah dari firman Allah), yoga, kekuatan dari berpikir positif, “pikirkan dan jadilah kaya” (think and grow rich), psikoterapi kontemplatif, dll., yang sebenarnya bukanlah konsep-konsep baru, melainkan hanya didaur ulang dan diberi nama-nama baru, sehingga mudah diterima di kalangan masyarakat yang lebih luas; walaupun sudah banyak pula penelitian yang membuktikan bahwa konsep-konsep ini paling banter hanya memberi keyakinan palsu kepada orang-orang bahwa mereka memiliki kemampuan melakukan hal-hal yang membantu mereka “mencapai potensi terbaik” mereka. Alkitab menyebut praktek-praktek semacam ini tidak lain adalah “penyembahan kepada setan-setan” (1Korintus 10:20-21, I Timotius 4:1), yang selayaknya dihindari oleh orang Kristen.

“Law of Attraction” yang sedemikian menarik kemasannya karena mengajarkan bahwa manusia memiliki “kuasa” untuk menciptakan peristiwa-peristiwa yang bersifat supranatural melalui pikiran yang terkonsentrasi kepada sesuatu hal tertentu, sesungguhnya tidak lain adalah penyembahan kepada roh-roh jahat yang sudah berlangsung dan dipraktekkan sejak zaman kuno, namun diberi bentuk, nama dan kemasan baru.

Kebenaran yang sesungguhnya adalah: segala sesuatu ada dalam kendali Allah. Bagian kita adalah menyelaraskan diri kita dengan Allah, berusaha mengerti isi hati-Nya dan mengenal kehedak-Nya. Ketimbang mengejar kekayaan, ketenaran, kekuasaan dan kesenangan duniawi, seperti yang diajarkan oleh “Law of Attraction”, lebih baik kita mencari hubungan dengan Allah, dan membiarkan Dia menempatkan keinginan hati-Nya ke dalam hati kita, sehingga pikiran kita dapat bersesuaian dengan pikiran-Nya (Mazmur 37:4-6).

Sumber kuasa yang sesungguhnya bukanlah pada pikiran, sebagaimana diajarkan dalam “Law of Attraction”, melainkan pada Allah Yang Maha Tinggi, dan kita dapat memperolehnya dan digerakkan olehnya dengan perantaraan Roh Kudus, dan memampukan kita untuk melakukan segala sesuatu (Filipi 4:13), sesuai dengan kehendak Allah, demi mengekspresikan kasih kepada Allah dan sesama.

Tuhan Yesus memberkati kita sekalian, Amen!







Friday, December 11, 2015

Seputar Natal : Benarkah Yesus Lahir di Kandang Hewan?

Natal sebentar lagi tiba! Gemerlap perayaan setahun sekali ini, bagi mayoritas umat Kristen memang amat ditunggu-tunggu. Di tengah-tengah kesibukan kita mempersiapkan segala sesuatu  untuk perayaan Natal, penulis ingin mengajak sidang pembaca yang budiman untuk sejenak membahas mengenai salah satu tradisi Natal yang telah dipercaya, dipegang dan dilestarikan turun-temurun selama (mungkin) ratusan tahun.

Salah satu tradisi ini, yang sudah diterima umum di kalangan warga gereja menyangkut kelahiran Yesus adalah: bahwa Yesus dilahirkan di kandang hewan.
Dari mana asalnya tradisi ini? Tidak lain, berasal dari teks Lukas 2:7 yang berbunyi:

"Dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan."

Kata "palungan" dalam ayat inilah yang dijadikan patokan untuk menyimpulkan bahwa peristiwa kelahiran itu terjadi di kandang hewan ternak, atas asumsi bahwa di tempat itulah sewajarnya ditempatkan sebuah palungan sebagai tempat menaruh makanan bagi hewan ternak. Namun, benarkah demikian?
Mari kita telusuri bersama.

Pertama, ayat ini maupun bagian-bagian lain dalam Injil Lukas yang berbicara seputar kelahiran Yesus, tidak sedikit pun menyebut-nyebut tentang "kandang". Menempatkan sebuah keluarga muda, apalagi dengan seorang wanita muda yang tengah hamil tua dan menjelang bersalin, di dalam sebuah kandang bukanlah sesuatu yang dapat diterima dari segi logika, etika moral, kultural, atau apa pun - bahkan pada zaman itu sekalipun. Sekiranya penempatan di kandang itu benar-benar terjadi, hal mana akan merupakan sesuatu yang sangat tidak biasa dan di luar kewajaran umum, pastilah penulis Injil Lukas akan menyebutkannya secara eksplisit, dan terang-terangan menyebut "kandang" sebagai tempat kelahiran Tuhan.

Kedua, kata dalam bahasa asli Injil Lukas (bhs Yunani) yang diterjemahkan dengan "rumah penginapan" dalam ayat tersebut adalah kataluma (κατάλυμα). Penelusuran lebih jauh menyangkut kata ini mengungkapkan beberapa hal, di antaranya:

  • Kata ini memiliki cakupan pengertian yang luas. Bisa mengacu kepada semacam tempat bermalam bagi rombongan kafilah; biasanya tempat-tempat semacam ini dibangun di sisi jalan raya yang sering dilewati rombongan kafilah semacam itu, berupa lapangan terbuka yang dikelilingi bangunan khusus yang berfungsi seperti "benteng" yang melindungi rombongan tersebut (lihat gambar). Hewan-hewan yang difungsikan sebagai pengangkut barang (unta, keledai, dll.) ikut dibawa masuk ke dalamnya.
 Kebanyakan terjemahan Alkitab yang kita miliki menerjemahkan kata kataluma dalam Lukas 2:7 dalam pengertian tempat bermalam seperti ini; walau tidak tertutup kemungkinan bagi pengertian lain, yang akan kita bahas kemudian.

  • Memang ada juga semacam penginapan yang biasanya berada di dalam kota, dan berupa bangunan khusus semacam hotel untuk tempat menginap; tapi Injil Lukas menggunakan kata yang berbeda untuk menggambarkan tempat semacam ini, yaitu pandocheion (πανδοχεῖον), yang dapat kita temui dalam Lukas 10:34, yang konteksnya adalah perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati.
Sekiranya yang dimaksud oleh Lukas 2:7 adalah "penginapan" semacam ini, mengapa bukan kata pandocheion ini yang dipergunakan?

  • Kata yang sama (kataluma) dipergunakan di dalam Lukas 22:11. Konteks ayat ini adalah: Tuhan Yesus yang akan merayakan Paskah bersama murid-murid-Nya, mengutus Petrus dan Yohanes untuk mempersiapkan tempat untuk perayaan itu. Ayat itu berbunyi demikian:

"Dan katakanlah kepada tuan rumah itu: Guru bertanya kepadamu: di manakah ruangan tempat Aku bersama-sama dengan murid-murid-Ku akan makan Paskah?"

Di sini kata kataluma yang diterjemahkan dengan "ruangan" itu mengandung pengertian "ruang tamu", yakni ruangan khusus yang biasanya disediakan di dalam rumah-rumah orang Yahudi pada zaman itu, untuk menampung orang-orang yang sedang dalam perjalanan dan mencari persinggahan atau tempat bermalam; itu adalah hal biasa pada zaman itu.

Berdasarkan penemuan arkeologis dan penyelidikan terhadap sumber-sumber sejarah, didapati bahwa interior rumah Yahudi di zaman itu biasanya terbagi dua: ruang utama untuk pemilik rumah dan keluarganya, biasanya terletak di lantai dasar/bawah; dan ruang tamu yang umumnya terletak di lantai atas. Tambahan pula: di ruang utama yang di lantai bawah itu biasanya ada bagian yang disediakan khusus untuk menampung hewan milik keluarga tersebut (kambing, domba, atau bahkan kuda pada keluarga yang cukup berada) pada malam hari (lihat gambar). Tujuannya adalah untuk melindungi hewan-hewan itu dari pencuri atau binatang buas; di samping itu, keberadaan hewan-hewan itu di dalam rumah itu ikut menambah hawa hangat, yang memang dibutuhkan pada malam hari. Di bagian khusus itu pula diletakkan - antara lain - palungan, untuk tempat makan/minum hewan-hewan tersebut.

Sekarang mari kita tengok keberadaan Yusuf dan Maria, tunangannya, yang saat itu tengah mengandung. Perjalanan mereka dari Nazaret ke Betlehem, adalah karena sedang diadakan sensus oleh penguasa Romawi, yang pada masa itu memang tengah menjajah Yudea; dan setiap penduduk diwajibkan kembali ke kota asalnya untuk didaftarkan di sana. Yusuf adalah keturunan Raja Daud, yang kampung halamannya adalah Betlehem (sering disebut juga kota Daud), maka ke sanalah dia harus pergi.

Mungkin sekali Yusuf memiliki sanak keluarga di Betlehem (walau Alkitab tidak menyebutkannya), dan adalah hal yang wajar apabila sesampai di kampung halamannya itu ia memilih singgah di rumah sanak keluarganya itu, ketimbang menyinggahi penginapan atau tempat bermalam yang biasa disinggahi rombongan kafilah seperti yang digambarkan di atas.

Kenyataan bahwa bayi Yesus, sesudah dilahirkan, dibaringkan di dalam  palungan, oleh karena mereka tidak mendapat tempat di dalam kataluma sebagaimana disebutkan dalam Lukas 2:7 itu, dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Keadaan Maria yang sedang hamil tua, tidak memungkinkan mereka untuk mengadakan perjalanan secara cepat, dan di Betlehem mereka sudah keduluan oleh sanak keluarga dari kota-kota lain; wajarlah jika kataluma atau ruang tamu di dalam rumah sanak keluarga yang mereka singgahi sudah penuh.

  • Tuan rumah pun berinisiatif menempatkan Yusuf dan Maria di ruang utama di lantai bawah - yang bersebelahan dengan bagian khusus tempat menampung hewan. Namun pastilah mereka takkan ditempatkan di bagian khusus hewan itu, walau mungkin sekali ruang utama itu sendiri pun sudah penuh juga oleh sanak keluarga lainnya.

  • Lantas bagaimana menjelaskan mengapa bayi Yesus, sesudah dilahirkan, ditempatkan di palungan? Bukankah ini memberi kesan bahwa Yusuf dan Maria memang ditempatkan di bagian penampungan hewan itu? Tidak juga. Pada waktu Maria bersalin, tentulah memerlukan privasi, sebagaimana layaknya bagi perempuan bersalin di manapun. Sementara ruangan-ruangan di rumah itu, yang sudah terisi penuh, baik yang di lantai atas untuk tamu, maupun yang di lantai bawah, tidak memungkinkan dia mendapatkan privasi itu. Satu-satunya tempat yang memungkinkan adalah bagian rumah yang menampung hewan itu. Sekiranya Maria melahirkan di siang hari, otomatis dia mendapat privasi di situ, karena di siang hari hewan-hewan itu tengah berada di luar rumah. Kalau dia melahirkan di malam hari, maka keluarga tuan rumah itu dapat mengambil tindakan darurat dengan menyingkirkan sementara hewan-hewan itu ke luar, untuk memberi tempat bagi Maria melahirkan di situ.

Jadi, kejadian sebenarnya tidaklah sebagaimana yang biasa digambarkan dalam drama-drama Natal modern di mana Yesus dilahirkan dalam kesepian, kesendirian, di kandang hewan yang terpencil. Bayi Yesus justru dilahirkan di tengah-tengah sanak keluarga-Nya, orang-orang yang memang menunggu kehadiran-Nya. Karena keadaan ibu-Nya, Maria, yang sudah hamil tua, tentu semua orang dalam rumah itu sudah bersiap-siap mengantisipasi saat bersalinnya yang sudah dekat.


Tambahan pula: Betlehem adalah sebuah desa kecil (Mikha 5:2), sehingga peristiwa kelahiran seorang bayi pastilah dengan segera dapat diketahui semua orang di sana. Pastilah banyak orang yang datang menengok sang bayi dan ibunya, di samping sanak keluarga mereka sendiri. Itulah sebabnya para gembala di padang (Lukas 2:8-20), yang mendapat pemberitahuan dari malaikat bahwa Mesias yang baru lahir itu dapat ditemui sedang terbaring di ""palungan", pastilah tidak sulit menemukan Dia. Mungkin mereka datang ke rumah tempat Yesus dilahirkan itu di saat orang-orang lain, dari sanak keluarga di sana, tengah berkumpul di malam hari itu di sekeliling bayi yang baru lahir itu. Itu sebabnya dikatakan dalam Lukas 2:17-18,

"Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka."

Para gembala itu terang-terangan mengutip pesan malaikat, bahwa bayi yang ada di tengah-tengah mereka saat itu adalah Mesias. Tentulah hal itu sangat mengherankan semua orang yang hadir di sana pada saat itu. Mungkin ada yang percaya, ada pula yang tidak; Alkitab tidak menceritakan lebih jauh, yang disebutkan hanya keheranan yang timbul.

Demikianlah sedikit paparan seputar kelahiran Tuhan kita, yang sedapat mungkin dilakukan secara obyektif dengan berpatokan semata-mata pada kesaksian Alkitab dan hasil penelitian historis dan arkeologis; kiranya boleh memberi pencerahan pada warga gereja dan sidang pembaca dari kalangan yang lebih luas, untuk lebih mengapresiasi historisitas Tuhan Yesus, sang Mesias itu, yang sudah hadir di tengah-tengah sejarah umat manusia dan dengan demikian menjadi bagian dari sejarah itu sendiri.

Selamat menyambut Natal, Tuhan Yesus memberkati!


Wednesday, December 2, 2015

BERANI MENYEBUT NAMA YESUS DI DEPAN UMUM?


Saat kita pertama kali berkenalan dengan seseorang, apa yang pertama kali kita sebutkan? Nama diri kita, tentunya. Dalam situasi formal atau dalam konteks bisnis, kita biasanya memberikan/saling bertukar kartu nama. Hal ini bertujuan supaya kita, sebelum berkomunikasi lebih lanjut, dapat memastikan bahwa lawan bicara kita mengenal/tahu identitas diri kita, sehingga komunikasi menjadi lebih efektif. Sebuah nama mewakili pribadi sang pemilik nama. Saat membicarakan seseorang, kita menggunakan nama orang tersebut, sehingga lawan bicara kita tahu siapa yang kita maksudkan. Jika pun kita tidak mengetahui nama orang tersebut, kita akan "menciptakan" nama/sebutan sendiri bagi orang itu. Begitu pentingnya sebuah nama.

Dalam kaitan dengan iman Kristiani kita, suatu "nama" pun dapat menjadi penanda iman itu. Kita tidak beriman kepada sekumpulan doktrin yang diajarkan seorang nabi atau pendiri agama. Kita beriman kepada suatu Pribadi, dan Pribadi itu memiliki nama. Yesus Kristus.


Selaku umat percaya, yang sudah ditebus dengan darah Kristus -- dan karenanya, menjadi milik Allah -- kita semua menyandang satu Nama yang sama, yaitu Nama di atas segala nama -- YESUS. Nama itu terpatri di dalam jiwa dan roh kita, walau tidak selalu nampak secara fisik. Beberapa orang berusaha menunjukkannya melalui berbagai asesoris "kristiani" seperti kalung salib, bros berbentuk salib, atau bahkan tato bermotifkan salib. Apapun itu, kita semua yang mengaku percaya, sesungguhnya telah "ditempeli", dicap, dimeterai, dengan Nama Yesus.

Seringkali, nama bukan hanya sekedar merupakan sebutan atau penunjuk identitas diri. Lebih dari itu, suatu nama dapat mewakili diri pribadi sang pemilik nama. Misalnya, jika seorang penguasa memberi perintah atau misi khusus kepada bawahan-bawahannya, dan mereka menjalankan tugas yang diberikan, maka dapat dikatakan: mereka bertindak atas nama sang penguasa. Jika ada dari kalangan rakyat yang menolak atau membangkang, maka penolakan atau pembangkangan itu bukan ditujukan kepada para bawahan itu, melainkan langsung kepada sang penguasa.


Bisa jadi orang Kristen tidak menyadari bahwa nama Yesus adalah nama yang PENUH KUASA. Bukan artinya rangkaian huruf Y-E-S-U-S itu yang mengandung kuasa, melainkan oleh karena di belakang nama itu berdiri Sang Pribadi yang telah bersabda: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi" (Matius 28:18).
Seharusnya kita BANGGA di saat menyebut nama yang agung itu di hadapan orang lain, termasuk mereka yang tidak seiman. Namun kenyataannya, alih-alih merasa bangga, banyak dari kita justru terkesan MALU menyebut nama itu di depan orang. Mengapa bisa demikian?

Siapa tidak kenal AGNES MONICA? Mantan penyanyi cilik yang sekarang sudah go inernational itu, seperti kita tahu, selalu membuka setiap public speech-nya, terutama di saat menerima suatu penghargaan (award) di bidang musik, dengan ucapan syukur dan terima kasih kepada TUHAN YESUS. Nama yang agung itu disebutkannya dengan jelas dan lantang di hadapan semua orang yang mendengarnya. Dan hal itu bukan saja dilakukannya di Indonesia, tapi juga di luar negeri, seperti terlihat pada video di bawah ini (perhatikan pada 1:30):\


 

Adakah suatu kebetulan jika karirnya terus menanjak? Sesungguhnya Tuhan kita menghormati barangsiapa yang juga menghormati dan mengakui nama-Nya di hadapan manusia, dan yang jujur berterus terang bahwa segala prestasi dan pencapaiannya bukanlah karena kuat kuasanya sendiri, tapi atas anugerah-Nya semata; dan Tuhan tidak segan-segan meng-'angkat' orang yang demikian, dalam segala hal.

Sungguh disayangkan, bahwa hal yang berlawanan justru banyak ditemui di kalangan kita orang-orang percaya. Alih-alih menyebut nama Tuhan kita YESUS KRISTUS dengan jelas dan tanpa ragu-ragu di hadapan orang lain khususnya yang tidak seiman, sebagai satu-satunya Pribadi yang menjadi Sumber segala yang baik dalam hidup, banyak dari kita lebih suka 'menyamarkan' nama-Nya dengan sebutan yang sangat umum seperti 'Tuhan' atau 'Yang Maha Kuasa', atau 'Tuhan yang Maha Esa'. Padahal kita tahu sebutan yang demikian banyak digunakan pula oleh umat beragama lain, untuk menyebut 'Tuhan' yang mereka pahami menurut ajaran mereka sendiri.

Apakah sebenarnya yang menghalangi kita untuk terang-terangan menunjukkan identitas dari Dia yang kita sembah? Apakah karena kita merasa inferior sebagai kalangan minoritas dari segi jumlah? Atau, lebih buruk lagi, karena kita sebenarnya kurang mempercayai Dia sebagai Penopang hidup kita yang satu-satunya, sehingga malu mengakui Dia di hadapan orang lain?

Ingatlah perkataan Yesus yang jelas-jelas mengecam pengikut-Nya yang malu mengakui Dia di hadapan manusia:

"Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 10:32-33)

Pikirkanlah dengan jernih: Adakah hal yang lebih penting bagi kita dari pada diakui oleh Yesus di hadapan Bapa di sorga? Bukankah segala hal yang kita anggap penting selama hidup kita yang fana, akan menjadi tidak berarti apa-apa apabila sesudah mati, kita tidak diakui di hadapan takhta Allah yang Maha Kuasa?


Beberapa orang mungkin berdalih: mereka menahan diri untuk tidak menyebut nama Yesus secara terang-terangan demi menjaga perasaan orang lain yang tidak seiman. Ya, sekilas mungkin alasan ini dapat dimengerti. Pertanyaannya adalah: apakah alasan itu dapat dibenarkan? Adakah kita lebih suka mengorbankan perasaan Dia yang sudah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita, demi perasaan orang lain yang mungkin tidak pernah mengorbankan apapun  untuk kita?

Bagaimana dengan Anda? Masihkah Anda ragu-ragu menyebut nama YESUS dengan jelas dan terang di depan kawan-kawan Anda yang tidak seiman, di saat menceritakan kebaikan-Nya dalam hidup Anda?
Alkitab berkata demikian :

Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! (Mazmur 105:1)

Masihkah kita ragu-ragu untuk memasyhurkan Nama-Nya?

Thursday, June 4, 2015

MENGAPA BANYAK ORANG KRISTEN PINDAH AGAMA?


Gereja yang nyaris kosong
Apapun hal yang timbul dalam pikiran Anda saat membaca judul di atas, hingga timbul keingintahuan Anda untuk membaca isi tulisan ini, yang jelas ini adalah sesuatu yang nyata-nyata terjadi. Dari waktu ke waktu banyak orang Kristen yang meninggalkan gerejanya, bahkan imannya, lalu pindah ke gereja lain, denominasi lain, bahkan kepercayaan yang lain.
Tentu saja, di satu sisi seseorang yang beralih keyakinan adalah fenomena  yang sudah biasa terjadi, bahkan di Indonesia merupakan salah satu perwujudan nyata dari kebebasan beragama yang dijamin dan dilindungi oleh Negara. Namun di sisi lain, kita selaku umat percaya sudah selayaknya prihatin. Bukan untuk melemparkan kesalahan kepada pihak lain, melainkan untuk introspeksi, untuk menengok ke dalam diri sendiri. Ada apa dengan Gereja Kristus masa sekarang ini?


Sebagai referensi, hasil survey terbaru oleh Pew Research Center (sebagaimana dilansir dalam Christiannews.com tanggal 14 Mei 2015) menunjukkan adanya  peningkatan jumlah anggota gereja dari berbagai denominasi di Amerika Serikat yang menanggalkan keanggotaan gereja mereka, dan mengganti iman Kristiani dengan agama lain, bahkan tidak sedikit yang memilih menjadi ateis. Walau survey ini berlangsung di Amerika, tetapi relevansinya sangat mendekati situasi banyak gereja di Indonesia juga.

Tak dapat dipungkiri, fakta bahwa gereja semakin menjadi "tidak menarik", bahkan di mata orang-orang dalam lingkungan gereja sendiri, terutama disebabkan perilakuanggota-anggota gereja yang seringkali tidak sejalan dengan firman Tuhan. Misalnya, Yesus pernah berkata: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu  saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi" (Yohanes 13:34). Kalau mau jujur, seberapa sering Anda menjumpai warga gereja yang sungguh-sungguh menerapkan perintah Tuhan ini? Ada berapa kawan se-gereja Anda yang menunjukkan kasih dengan kadar yang sama dengan kasih yang ditunjukkan Kristus? Yang kita dapati dominan dalam gereja justru adalah kesombongan, kepentingan diri sendiri, mencari-cari kesalahan orang lain, dsb.

Bergosip = menyebar fitnah
Sedikit pengalaman pribadi: Sebelum berkenalan dengan saya, istri saya sempat mengalami ketidaknyamanan dalam lingkungan gerejanya diakibatkan fitnah  yang diciptakan dan disebarkan oleh beberapa warga gerejanya. Dan isi fitnah yang dikenakan kepadanya tidak main-main: menyelingkuhi suami orang! Dan tidak berhenti di situ, bahkan pendeta yang bertugas pada waktu itu pun tidak berusaha meredam atau mengklarifikasi gelombang fitnah tersebut, melainkan justru secara tidak langsung ikut menyuburkannya. Istri saya sempat pindah gereja selama beberapa tahun akibat ketidaknyamanan ini. Masih untung dia tidak pindah agama! Ini hanyalah sekelumit contoh nyata betapa segelintir warga gereja yang bersikap tidak alkitabiah dapat menyebabkan suasana gereja berubah menjadi bagaikan "neraka".

Namun, ada juga sebahagian warga jemaat yang meninggalkan gereja dan bahkan imannya, karena membiarkan dirinya dikalahkan oleh godaan dunia. Inilah yang terjadi saat Paulus menulis kepada Timotius: " Berusahalah supaya segera datang kepadaku, karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika." (2 Timotius 4:9-10). Hal yang sama juga terjadi di dalam keluarga besar kami, baik dari pihak istri saya maupun saya sendiri. Seorang kerabat istri saya (keponakan jauh, gitu lah) dibesarkan di dalam keluarga yang kehidupan ekonominya lebih dari cukup, bahkan terbilang mewah. Namun, ia tidak segan-segan menanggalkan iman Kristianinya dan memilih memeluk agama suaminya, semata-mata karena menginginkan kelimpahan kemewahan hidup yang lebih lagi. Dalam keluarga besar saya juga, ada yang pindah agama dengan dalih cinta kepada pasangannya. Ini pun bukan hal yang baru. Raja Salomo yang penuh hikmat dari Allah itu pun jatuh karena hal yang sama: cinta. Kesaksian Alkitab dalam 1 Raja-raja 11:1-4 menceritakan demikian:

1 Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het,
Raja Salomo
2 padahal tentang bangsa-bangsa itu TUHAN telah berfirman kepada orang Israel: "Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan merekapun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka." Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta.
3 Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN.
4 Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya.

Hal itu tidak asing lagi di telinga Anda, bukan?


Kutipan yang terkenal dari MAHATMA GANDHI (1869-1948), seorang tokoh nasionalis India pada zaman penjajahan oleh Inggris, yang berbunyi: "I like your Christ, I do not like your Christians. Your Christians are so unlike your Christ." (Saya menyukai Kristus Anda, akan tetapi saya tidak menyukai orang-orang Kristen Anda, karena mereka tidak menyerupai Kristus Anda) seharusnya menjadi tamparan keras bagi kita (yang mengaku sebagai) pengikut Yesus Kristus. Walaupun hal itu dikatakannya kurang lebih 70 tahun yang lalu, namun tetap relevan pada zaman kita sekarang, dengan begitu banyaknya orang-orang Kristen yang kelihatan "saleh" pada hari Minggu di gereja, tapi sangat sulit dibedakan dari "orang-orang dunia" pada hari Senin hingga Sabtu.

Pada kesempatan lain, Gandhi juga pernah mengatakan: "If Christians would really live according to the teachings of Christ, as found in the Bible, all of India would be Christian today." Kata-kata ini membawa ingatan kita kembali ke zaman Gereja Mula-mula, tidak lama setelah Pencurahan Roh Kudus 50 hari setelah kebangkitan Tuhan, di mana peningkatan jumlah anggota jemaat berlangsung begitu pesat. Kisah Para Rasul 2:41-47 menggambarkannya demikian:

41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.
42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.
43 Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda.
44 Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,
45 dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,
47 sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Dari ayat-ayat di atas dapat disimpulkan bahwa hal yang pertama dan utama yang menarik orang-orang luar untuk datang mendekat dan akhirnya masuk menjadi anggota Gereja bukanlah ajaran Kristiani, khotbah para rasul, bahkan bukan pribadi Kristus sendiri, melainkan cara hidup para anggota jemaat di kala itu.
Jemaat Gereja Mula-mula


Pola hidup yang ditunjukkan jemaat Gereja Mula-mula ini mencakup: bertekun dalam pengajaran rasul-rasul (di mana ada kerendahan hati untuk menerima dan belajar firman Tuhan), persekutuan (di mana ada saling mengasihi dan saling menerima), memecah-mecahkan roti (di mana ada saling memberi dan membagi), dan doa (di mana ada komunikasi aktif dengan Allah baik dalam persekutuan maupun secara individual). Pola hidup semacam inilah yang membuat Gereja Mula-mula menjadi sebuah perkumpulan yang SANGAT MENARIK di mata masyarakat sekitar. "Dan mereka disukai semua orang" (ayat 47b). Dan konsekuensi wajarnya, selalu ada saja yang tertarik untuk bergabung. "Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan" (ayat 47c)

Bandingkanlah sekarang dengan gereja di mana Anda rutin beribadah: masih adakah Anda dapati pola hidup semacam ini di dalamnya? Apakah gereja Anda masih merupakan sesuatu yang "menarik" bagi masyarakat sekitar?



Pada kasus-kasus tertentu, warga jemaat memilih meninggalkan gerejanya karena melihat hal-hal yang dipersepsikan sebagai "ketidakberesan" di dalam gereja tersebut, entah itu dalam hal ajaran (doktrinal), tata kelolanya (administratif), atau bahkan sikap gembala sidangnya (behavioral) yang dirasa tidak membangun jemaat.

Beberapa gereja mainstream di Amerika bahkan sudah jelas-jelas menyimpang dari prinsip Alkitabiah dan ikut arus dengan kebijakan resmi pemerintah Obama yang mendukung aborsi dan perkawinan sesama jenis, dan mengkriminalisasi kelompok-kelompok Kristen yang menentang hal-hal itu. Bahkan ada gereja tertentu yang menyimpang sangat jauh dan menerapkan "inklusivisme religius" dengan mengundang masuk kelompok-kelompok agama lain, dan mempersilakan mereka menerapkan ritual-ritual mereka di dalam gereja, dan liturgi gerejanya justru disesuaikan dengan ritual-ritual tersebut.

Di lain pihak, ada kelompok-kelompok Kristen yang tetap teguh berpegang pada firman Allah, dengan lantang menyuarakan penentangan terhadap hal-hal yang tidak alkitabiah, serta menyerukan pertobatan dan peringatan bahwa Hari Tuhan, yakni Akhir Zaman, sudah dekat, dan kedatangan Sang Mesias, Raja di atas segala raja, Tuhan Yesus Kristus, sudah di ambang pintu.


Berbicara tentang tanda-tanda Akhir Zaman, dalam hal ini yang diuraikan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 24:3 dst., Markus 13:3 dst., dan Lukas 21:7 dst., biasanya orang lebih berfokus pada hal-hal seperti deru perang (Matius 24:6), penyakit sampar dan kelaparan (Matius 24:7), tanda-tanda yang dahsyat di langit (Lukas 21:11,25), dan mengabaikan fakta bahwa di saat menjawab pertanyaan murid-murid tentang tanda-tanda menjelang kedatangan-Nya, hal pertama yang disebut Tuhan Yesus adalah penyesatan. "Jawab Yesus kepada mereka: "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!" (Matius 24:4). Kata-Nya pula: "Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang. ...  Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga" (Matius 24:5, 24). Inilah yang nyata-nyata terlihat, bukan? Ajaran yang menyimpang dari Alkitab makin menggejala di sejumlah gereja di Indonesia. Akibatnya, warga jemaat yang merasa tidak nyaman dengan kesesatan-kesesatan itu, terlebih mereka yang mengetahui kebenaran Alkitab, memilih keluar meninggalkan gereja tersebut; sementara mereka yang betah terus berada di sana, makin terlarut dalam gelombang kesesatan di dalamnya.

Rasul Paulus juga memperingatkan demikian: "Sebab sebelum Hari itu [Akhir Zaman] haruslah datang dahulu murtad... " (2 Tesalonika 2:3) Dengan kata lain, salah satu tanda menjelang Akhir Zaman adalah kemurtadan besar-besaran dan meluas di kalangan umat percaya, mengiringi tanda-tanda lainnya (perang, kelaparan, penyakit sampar, gempa bumi, tanda-tanda yang dahsyat di langit dll.) dengan frekuensi dan intensitas yang makin meningkat. Berlawanan dengan sikap orang-orang dunia yang cenderung menanggapi situasi dunia yang demikian dengan ketakutan dan kebingungan, kita yang telah diselamatkan dalam Yesus justru seharusnya mengantisipasinya dengan sukacita dan pengharapan, oleh karena sabda Tuhan ini: 

"Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat." 

Amen, MARANATHA!



Tuesday, April 14, 2015

NUBUAT AKHIR ZAMAN


Kalau kita membaca kepala-kepala berita di semua surat kabar dan situs berita dewasa ini, akan nyata terlihat dan terasa bahwa dunia ini makin bergejolak dan tidak menentu. Berbagai krisis sosial ekonomi, politik, bahkan moral dan agama, selalu mewarnai perkembangan dunia. Bahkan ke mana pun kita menengok di sekitar lingkungan kita sendiri, ada rasa ketidaknyamanan, ketidakpastian dan bahkan ketakutan, dengan segala sesuatu yang terjadi di depan mata kita.

Yesus dan murid-murid-Nya di Bukit Zaitun
Sesungguhnya Alkitab telah lama menubuatkan mengenai zaman kita sekarang. Jika kita membuka di Injil Matius pasal 24 ayat 3, di situ dikisahkan bahwa murid-murid Yesus mendatangi Sang Guru dan bertanya kepada-Nya:  "Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?" Lalu Yesus menubuatkan berbagai peristiwa sebagai tanda bahwa kedatangan-Nya sudah dekat (Matius 24:4-8, Lukas 21:8-11)

(Matius 24:4-8)
4 Jawab Yesus kepada mereka: "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! 5 Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang. 6 Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. 7 Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. 8 Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.

(Lukas 21:8-11)
8 Jawab-Nya: "Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka. 9 Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera." 10 Ia berkata kepada mereka: "Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, 11 dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit.

Perhatikanlah ayat 8 dari Matius pasal 24. Bunyinya: "Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru." Istilah Yunani yang diterjemahkan menjadi "penderitaan menjelang zaman baru" di sini adalah odinon, yang secara harafiah dapat diartikan sebagai "sakit bersalin" atau "rasa sakit menjelang melahirkan". Pemahaman lebih dalam dari istilah ini memberi kita perspektif yang penting dalam memaknai tanda-tanda zaman yang dinubuatkan Yesus.
Sebagaimana sakit bersalin yang dialami seorang perempuan, seiring waktu meningkat baik intensitas maupun frekuensinya, begitu pula tanda-tanda yang disebutkan Yesus itu akan mengalami peningkatan yang serupa menjelang kedatangan-Nya.
Ambillah salah satu contoh dari tanda-tanda tersebut: gempa bumi (Matius 24:7, Lukas 21:11). Jika kita amat-amati,kejadian kegempaan di tempat manapun di seluruh dunia cenderung meningkat baik intensitas berupa besarnya goncangan dan kerusakan yang ditimbulkan maupun frekuensi kejadiannya, dengan masing-masingnya memakan korban ratusan bahkan ribuan jiwa meninggal dan luka-luka. Berikut ini adalah data statistik kejadian kegempaan (6 SR atau lebih) di seluruh dunia yang penulis dapatkan dari ProphecyUpdate.com:

Periode (Tahun)
Jumlah Kejadian Kegempaan
1890 - 1899
1900 - 1910
1910 - 1930
1930 - 1940
1940 - 1970
1970 - 1980
1980 - 1989
1990 - 1994
1995 - 2004
2004 - 2014
1
3
4
5
13
56
310
747
1484
1841

Dari data di atas, nampak jelas adanya peningkatan. Ini seolah-olah mengisyaratkan bahwa bumi semakin tidak stabil, makin berisiko sebagai tempat hunian manusia, dan setiap saat siap memakan korban lebih banyak lagi.



Yoel 2:30 yang juga menguraikan tanda-tanda Akhir Zaman, menyebutkan di antaranya "api dan gumpalan-gumpalan asap", yang mungkin sekali mengacu kepada letusan gunung berapi. Sebagaimana halnya gempa bumi, letusan gunung berapi pun mengalami peningkatan di seluruh dunia, fenomena yang para ahli pun sulit menjelaskan penyebabnya. Tahun 2013 mencatat rekor jumlah terbanyak letusan gunung berapi di seluruh dunia dalam setahun (dibanding tahun-tahun sebelumnya), dan tahun  berikutnya, 2014, bahkan mencatat lebih banyak lagi. Sekitar 90% peristwa gempa bumi dan 75% letusan gunung berapi di dunia terjadi di sepanjang area yang disebut "Cincin Api" (Ring of Fire). Dalam beberapa bulan belakangan sudah tercatat berbagai letusan gunung berapi besar di Peru, Hawaii, Rusia, Reunion Island, Alaska, dan bahkan Indonesia sendiri. Fenomena aneh ini, di mana begitu banyak gunung berapi meletus dalam waktu begitu berdekatan, bahkan nyaris bersamaan, menyebabkan terkumpulnya sejumlah besar partikel debu di atmosfer yang memblokir sinar matahari, hingga pada gilirannya menyebabkan cuaca dingin yang ekstrim di beberapa tempat di dunia, dan dalam jangka panjang dapat memperparah kejadian gagal panen dan kelaparan di seluruh dunia.


Tanda lainnya adalah kelaparan global (Matius 24:7, Lukas 21:11), yang saat ini tengah melanda sekitar 1/6 dari 6 milyar penduduk bumi, dan menyebabkan kematian tidak kurang dari 34.000 ribu jiwa per HARI. Ditambah lagi tingkat malnutrisi yang parah yang diderita 34 juta anak-anak di seluruh dunia dan mengambil nyawa sekitar 1 juta dari anak-anak ini per tahunnya. Menurut perkiraan Science Daily, kurang dari 40 tahun lagi dunia akan menghadapi krisis pangan yang serius akibat menurunnya ketersediaan lahan pertanian, air dan energi.

Di samping kelaparan, Yesus juga menyebut sampar (sebutan lain bagi wabah penyakit) sebagai tanda lain yang menyertainya. Wabah penyakit berbahaya yang tengah mengancam dunia saat ini adalah HIV-AIDS, Ebola, SARS, DBD, dan penyakit-penyakit lama yang muncul kembali seperti TBC, kolera dan polio -- berlawanan dengan ramalan para ahli beberapa dasawarsa yang lalu bahwa kemajuan di bidang medis dan kedokteran akan menghilangkan penyakit-penyakit ini; yang terjadi justru sebaliknya, virus penyakit-penyakit ini malah bermutasi menjadi lebih kebal terhadap antibiotik dan metode pengobatan standar modern yang kita miliki sejauh ini. Dewasa ini, dari total 59 juta kematian di seluruh dunia per tahunnya, sekitar setengahnya (atau 30 juta) diakibatkan oleh penyakit. Tingginya tingkat kepadatan penduduk, rendahnya tingkat sanitasi, peperangan dan kemiskinan, ikut menyuburkan penyebaran penyakit. Di sisi lain, kemajuan dalam transportasi murah dan cepat, khususnya melalui udara, yang menyebabkan makin intensifnya pergerakan manusia dari satu tempat ke tempat lainnya di seluruh dunia, malah memperbesar kemungkinan penyebaran virus penyakit berbahaya hingga ke tempat-tempat yang jauh hanya dalam hitungan hari. Contohnya, kasus Ebola: sejak awal penyebarannya di Afrika Barat pada bulan Maret 2014 hingga Februari 2015, virus Ebola telah mengambil 9.177 nyawa manusia di 6 negara, termasuk Amerika Serikat.

Deklarasi berdirinya Negara Israel, 14 Mei 1948
Akan tetapi, indikator yang paling jelas untuk mengukur seberapa dekatnya kedatangan Tuhan, adalah umat pilihan Allah: ISRAEL. Ada banyak nubuat Akhir Zaman dalam Alkitab yang terkait erat dengan bangsa Israel ini. Dengan lahirnya Negara Israel modern pada 14 Mei 1948, maka sesungguhnya "hitungan-mundur" (countdown) menuju penggenapan nubuat-nubuat "kunci" Akhir Zaman telah dimulai.
Sejak penumpasan pemberontakan bangsa Yahudi oleh penjajah Romawi pada tahun 135 M, diikuti pengusiran besar-besaran terhadap mereka keluar dari tanah nenek moyang mereka, serta-merta terhenti juga eksistensi mereka sebagai suatu bangsa, kehilangan tanah tumpah darah, kehilangan identitas kebangsaan. Mereka tersebar ke tengah-tengah segala bangsa, seringkali mengalami penganiayaan, dan dipandang sebagai kelompok yang terpinggirkan, terbuang, dan tak diinginkan. Pusat spiritual, religius, dan nasional mereka, yakni Bait Allah yang berlokasi di Yerusalem, sudah dihancurkan. Dipulihkannya kembali status mereka sebagai bangsa di tanah leluhur mereka  sendiri pada tahun 1948 itu tentulah menjadi penting, karena penggenapan nubuat-nubuat Akhir Zaman yang sebagian besar berpusat di Tanah Israel ini menuntut adanya kehadiran umat pilihan ini di sana, sebagai pemegang peran sentral di dalamnya.

Salah satu contoh nubuat tersebut terdapat di dalam Mazmur 83, yang berisi doa memohon pertolongan dari Allah Israel terhadap ancaman bangsa-bangsa di sekeliling umat Allah ini yang berencana jahat hendak menyerang dan menghancurkannya. Asaf, penulis mazmur ini, adalah seorang "pelihat" (1 Tawarikh 25:2, 2 Tawarikh 29:30, 35:15), dan koalisi bangsa-bangsa yang disebutkan di dalam mazmur ini belum pernah ada di sepanjang sejarah Israel, sehingga boleh dikatakan mazmur ini bersifat nubuat, yakni menggambarkan peristiwa yang masih akan terjadi di masa depan. Perhatikanlah nama bangsa-bangsa yang disebut di situ beserta lokasi/letak negeri-negeri tempat bangsa-bangsa itu berdiam. Nyata bahwa setiap negeri itu, di masa sekarang ini ditempati oleh negara/komunitas Arab yang memusuhi Israel dan menginginkan kehancurannya. Bahkan jika memperhatikan perkembangan situasi di sana belakangan ini, penggenapan nubuat Mazmur 83 ini sangat mungkin dapat terjadi dalam waktu dekat.

Bangsa "Palestina", yang di sini diwakili oleh "Edom" (Tepi Barat, di bawah Otoritas Palestina) dan "Filistea" (Jalur Gaza, di bawah Hamas), sudah lama memimpikan pengambilalihan seluruh tanah leluhur Israel untuk mereka jadikan Negara "Palestina". Begitu pula "Asyur" (Lebanon/Hezbollah, dan Suriah/ISIS), yang semuanya sama-sama menganut ideologi radikal yang mengamanatkan penghapusan kaum Yahudi dari muka bumi. "Hagar" (Mesir), "Ismael" (Arab Saudi) dan "Amon" (Yordania) hingga saat ini masih relatif moderat, tapi masing-masing negara ini tengah berjuang melawan gerakan-gerakan ekstremis Islam dari dalam maupun luar. Jika gerakan-gerakan ekstrim ini berhasil menguasai negara-negara tersebut, maka rampunglah pembentukan koalisi bangsa-bangsa dalam Mazmur 83, dan kita tinggal menunggu penggenapannya saja.


Salah satu contoh lain nubuat Akhir Zaman ini adalah Yehezkiel 38-39, yang menguraikan tentang penyerangan oleh koalisi bangsa-bangsa terhadap Israel. Koalisi bangsa-bangsa ini berbeda dari yang diuraikan dalam Mazmur 83, karena kali ini melibatkan bangsa-bangsa yang tidak bertetangga/berbatasan langsung dengan Israel. Koalisi ini dipimpin oleh Gog  dari tanah Magog, yang oleh mayoritas ahli nubuat Alkitab diyakini sebagai Rusia modern sekarang ini. Sebagaimana halnya dalam Mazmur 83, koalisi dalam Yehezkiel 38-39 ini pun belum pernah terjadi dalam sejarah; dan jika menyimak perkembangan akhir-akhir ini, hubungan kerjasama antara bangsa-bangsa yang disebutkan, khususnya antara Rusia dan Iran ("Persia"), terutama di bidang militer, makin erat dan intensif; di lain pihak, Iran dewasa ini adalah salah satu negara yang paling vokal menyuarakan sikap anti-Israel. Jadi boleh dibilang, nubuat Yehezkiel 38-39 ini sudah memasuki proses penggenapannya, dan boleh jadi kita akan melihatnya terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Dari segi kronologis, ada indikasi kuat bahwa agresi multinasional versi Mazmur 83 mendahului Yehezkiel 38-39. Perhatikan Yehezkiel 38:11 yang berbunyi : "Engkau berkata: Aku akan bangkit bergerak menyerang tanah yang kota-kotanya tanpa tembok dan akan mendatangi orang-orang yang hidup tenang-tenang dan diam dengan aman tenteram; mereka semuanya diam tanpa tembok atau palang atau pintu gerbang." Ini mengisyaratkan bahwa pada waktu serangan besar-besaran di bawah pimpinan Gog (Rusia) itu terjadi, Israel sedang dalam keadaan aman dan damai, bebas dari rasa takut akan bahaya dan ancaman musuh. Hal ini belum pernah dirasakan sejak berdirinya Negara Israel pada tahun 1948, karena bangsa-bangsa Arab di sekelilingnya selalu berusaha melakukan penyerangan, baik secara frontal maupun melalui aksi-aksi terorisme, yang bahkan bermuara pada beberapa kali perang besar (di antaranya 2 kali perang besar melawan Hamas di Jalur Gaza). Rasa aman dan damai itu barulah dirasakan sesudah koalisi bangsa-bangsa Arab dalam Mazmur 83 itu terpukul kalah dan binasa sama sekali, sehingga tidak lagi menjadi ancaman bagi Israel.


Alkitab juga menubuatkan bahwa pada hari-hari terakhir, kota Yerusalem yang adalah ibukota Israel sejak masa purbakala, akan menjadi  sumber perebutan dan pertentangan yang sengit. Nabi Zakharia menubuatkan demikian:

(Zakharia 12:3, 9)
3 Maka pada waktu itu Aku akan membuat Yerusalem menjadi batu untuk diangkat bagi segala bangsa. Siapa yang mengangkatnya pastilah mendapat luka parah. Segala bangsa di bumi akan berkumpul melawannya.
9 Maka pada waktu itu Aku berikhtiar untuk memunahkan segala bangsa yang menyerang Yerusalem."

Komunitas Arab yang mewakili umat Islam dunia, telah lama mengklaim hak atas kota Yerusalem, yang mereka sebut Al-Quds. Komunitas internasional pun tak ketinggalan menyerukan agar kota Yerusalem dibagi dua dan diserahkan sebahagiannya kepada rakyat "Palestina", dan mereka ramai-ramai menolak hak mutlak Israel atas seluruh kota Yerusalem.
Panorama kota Yerusalem
Tragisnya, nas Alkitab di atas juga menubuatkan akan adanya penghakiman Allah atas "segala bangsa yang menyerang Yerusalem", yakni mereka yang menggugat hak Israel atasnya.


Dari deretan nabi Perjanjian Lama, boleh dibilang yang paling lengkap dan rinci menubuatkan Akhir Zaman adalah DANIEL. Salah satu nubuatnya yang paling terkenal adalah pada waktu ia menjelaskan mimpi raja Nebukadnezar yang berupa penglihatan akan sebuah patung besar yang per bahagiannya dari kepala sampai kaki melambangkan kerajaan-kerajaan besar dunia secara berurut, mulai dari kerajaan Nebukadnezar sendiri (Babel) hingga kerajaan terakhir yang akan ditumbangkan pada waktu Mesias datang (Daniel 2:31-45).
Nubuat terkenal lainnya dari Daniel adalah yang menguraikan tentang "70 x 7 masa" yang telah ditetapkan Allah bagi bangsanya, Israel (Daniel 9:24-27):


24 Tujuh puluh kali tujuh masa telah ditetapkan atas bangsamu dan atas kotamu yang kudus, untuk melenyapkan kefasikan, untuk mengakhiri dosa, untuk menghapuskan kesalahan, untuk mendatangkan keadilan yang kekal, untuk menggenapkan penglihatan dan nabi, dan untuk mengurapi yang maha kudus.
Malaikat Gabriel mendatangi Daniel
25 Maka ketahuilah dan pahamilah: dari saat firman itu keluar, yakni bahwa Yerusalem akan dipulihkan dan dibangun kembali, sampai pada kedatangan seorang yang diurapi, seorang raja, ada tujuh kali tujuh masa; dan enam puluh dua kali tujuh masa lamanya kota itu akan dibangun kembali dengan tanah lapang dan paritnya, tetapi di tengah-tengah kesulitan.
26 Sesudah keenam puluh dua kali tujuh masa itu akan disingkirkan seorang yang telah diurapi, padahal tidak ada salahnya apa-apa. Maka datanglah rakyat seorang raja memusnahkan kota dan tempat kudus itu, tetapi raja itu akan menemui ajalnya dalam air bah; dan sampai pada akhir zaman akan ada peperangan dan pemusnahan, seperti yang telah ditetapkan.
27 Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bagi banyak orang selama satu kali tujuh masa. Pada pertengahan tujuh masa itu ia akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan; dan di atas sayap kekejian akan datang yang membinasakan, sampai pemusnahan yang telah ditetapkan menimpa yang membinasakan itu."

Para ahli Alkitab bersepakat menafsirkan "7 masa" dalam ayat-ayat di atas sebagai "7 tahun". Menurut sejarah, perintah untuk membangun kembali kota Yerusalem itu dikeluarkan oleh Koresy, raja Persia, pada tahun 445 s.M. (Nehemia 2:1-8), dan jarak antara waktu dikeluarkannya perintah itu hingga waktu kedatangan "yang diurapi" (Mesias) adalah "(7x7)+(62x7)" masa = 483 masa. Dengan menggunakan sistem perhitungan Yahudi (360 hari/tahun), maka sampailah kita pada tahun 30 M sebagai waktu kedatangan Mesias. Hal ini digenapi dengan tepat, karena pada waktu inilah Yesus memasuki kota Yerusalem (Matius 21:1-9), diikuti penyaliban-Nya (ayat 26).

Periode "69x7 masa" itu sudah lewat serta tercatat dalam sejarah, dan para ahli Alkitab pun bersepakat bahwa sejak berakhirnya periode "69x7 masa" itu, yang ditandai dengan peristiwa Pentakosta (turunnya Roh Kudus) dan lahirnya Gereja (dari kalangan Yahudi dan bangsa-bangsa lain), maka Allah "menghentikan sementara" perhitungan 70x7 masa itu, dan masih menyisakan 1x7 masa yang  terakhir, yang sekaligus akan menjadi 7 tahun terakhir bagi dunia ini. Saat ini kita tengah menjalani masa sela yang panjang antara "69x7 masa" yang sudah lewat itu dan "1x7 masa" yang tersisa itu, dan masa sela ini, yang disebut "Zaman Anugerah" atau "Zaman Bangsa-bangsa", akan berakhir pada peristiwa pengangkatan Gereja (Rapture) sebagaimana diuraikan dalam 1 Tesalonika 4:16-17 .


The End Times in Chronological Order: Gambaran Komplet Memahami Nubuat Alkitab Tentang Akhir Zaman Secara KronologisMasih banyak lagi nubuat-nubuat Akhir Zaman yang tercantum dalam Alkitab, dan yang diuraikan di sini hanyalah sekelumit, sebahagian kecil saja; namun kiranya cukuplah untuk menggambarkan situasi dunia sekarang ini, yang intinya menegaskan bahwa kedatangan Sang Mesias Penyelamat dunia ini sudah dekat, sudah di ambang pintu.
Siapkah Anda menyambut kedatangan-Nya?