Thursday, June 4, 2015

MENGAPA BANYAK ORANG KRISTEN PINDAH AGAMA?


Gereja yang nyaris kosong
Apapun hal yang timbul dalam pikiran Anda saat membaca judul di atas, hingga timbul keingintahuan Anda untuk membaca isi tulisan ini, yang jelas ini adalah sesuatu yang nyata-nyata terjadi. Dari waktu ke waktu banyak orang Kristen yang meninggalkan gerejanya, bahkan imannya, lalu pindah ke gereja lain, denominasi lain, bahkan kepercayaan yang lain.
Tentu saja, di satu sisi seseorang yang beralih keyakinan adalah fenomena  yang sudah biasa terjadi, bahkan di Indonesia merupakan salah satu perwujudan nyata dari kebebasan beragama yang dijamin dan dilindungi oleh Negara. Namun di sisi lain, kita selaku umat percaya sudah selayaknya prihatin. Bukan untuk melemparkan kesalahan kepada pihak lain, melainkan untuk introspeksi, untuk menengok ke dalam diri sendiri. Ada apa dengan Gereja Kristus masa sekarang ini?


Sebagai referensi, hasil survey terbaru oleh Pew Research Center (sebagaimana dilansir dalam Christiannews.com tanggal 14 Mei 2015) menunjukkan adanya  peningkatan jumlah anggota gereja dari berbagai denominasi di Amerika Serikat yang menanggalkan keanggotaan gereja mereka, dan mengganti iman Kristiani dengan agama lain, bahkan tidak sedikit yang memilih menjadi ateis. Walau survey ini berlangsung di Amerika, tetapi relevansinya sangat mendekati situasi banyak gereja di Indonesia juga.

Tak dapat dipungkiri, fakta bahwa gereja semakin menjadi "tidak menarik", bahkan di mata orang-orang dalam lingkungan gereja sendiri, terutama disebabkan perilakuanggota-anggota gereja yang seringkali tidak sejalan dengan firman Tuhan. Misalnya, Yesus pernah berkata: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu  saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi" (Yohanes 13:34). Kalau mau jujur, seberapa sering Anda menjumpai warga gereja yang sungguh-sungguh menerapkan perintah Tuhan ini? Ada berapa kawan se-gereja Anda yang menunjukkan kasih dengan kadar yang sama dengan kasih yang ditunjukkan Kristus? Yang kita dapati dominan dalam gereja justru adalah kesombongan, kepentingan diri sendiri, mencari-cari kesalahan orang lain, dsb.

Bergosip = menyebar fitnah
Sedikit pengalaman pribadi: Sebelum berkenalan dengan saya, istri saya sempat mengalami ketidaknyamanan dalam lingkungan gerejanya diakibatkan fitnah  yang diciptakan dan disebarkan oleh beberapa warga gerejanya. Dan isi fitnah yang dikenakan kepadanya tidak main-main: menyelingkuhi suami orang! Dan tidak berhenti di situ, bahkan pendeta yang bertugas pada waktu itu pun tidak berusaha meredam atau mengklarifikasi gelombang fitnah tersebut, melainkan justru secara tidak langsung ikut menyuburkannya. Istri saya sempat pindah gereja selama beberapa tahun akibat ketidaknyamanan ini. Masih untung dia tidak pindah agama! Ini hanyalah sekelumit contoh nyata betapa segelintir warga gereja yang bersikap tidak alkitabiah dapat menyebabkan suasana gereja berubah menjadi bagaikan "neraka".

Namun, ada juga sebahagian warga jemaat yang meninggalkan gereja dan bahkan imannya, karena membiarkan dirinya dikalahkan oleh godaan dunia. Inilah yang terjadi saat Paulus menulis kepada Timotius: " Berusahalah supaya segera datang kepadaku, karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika." (2 Timotius 4:9-10). Hal yang sama juga terjadi di dalam keluarga besar kami, baik dari pihak istri saya maupun saya sendiri. Seorang kerabat istri saya (keponakan jauh, gitu lah) dibesarkan di dalam keluarga yang kehidupan ekonominya lebih dari cukup, bahkan terbilang mewah. Namun, ia tidak segan-segan menanggalkan iman Kristianinya dan memilih memeluk agama suaminya, semata-mata karena menginginkan kelimpahan kemewahan hidup yang lebih lagi. Dalam keluarga besar saya juga, ada yang pindah agama dengan dalih cinta kepada pasangannya. Ini pun bukan hal yang baru. Raja Salomo yang penuh hikmat dari Allah itu pun jatuh karena hal yang sama: cinta. Kesaksian Alkitab dalam 1 Raja-raja 11:1-4 menceritakan demikian:

1 Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het,
Raja Salomo
2 padahal tentang bangsa-bangsa itu TUHAN telah berfirman kepada orang Israel: "Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan merekapun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka." Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta.
3 Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN.
4 Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya.

Hal itu tidak asing lagi di telinga Anda, bukan?


Kutipan yang terkenal dari MAHATMA GANDHI (1869-1948), seorang tokoh nasionalis India pada zaman penjajahan oleh Inggris, yang berbunyi: "I like your Christ, I do not like your Christians. Your Christians are so unlike your Christ." (Saya menyukai Kristus Anda, akan tetapi saya tidak menyukai orang-orang Kristen Anda, karena mereka tidak menyerupai Kristus Anda) seharusnya menjadi tamparan keras bagi kita (yang mengaku sebagai) pengikut Yesus Kristus. Walaupun hal itu dikatakannya kurang lebih 70 tahun yang lalu, namun tetap relevan pada zaman kita sekarang, dengan begitu banyaknya orang-orang Kristen yang kelihatan "saleh" pada hari Minggu di gereja, tapi sangat sulit dibedakan dari "orang-orang dunia" pada hari Senin hingga Sabtu.

Pada kesempatan lain, Gandhi juga pernah mengatakan: "If Christians would really live according to the teachings of Christ, as found in the Bible, all of India would be Christian today." Kata-kata ini membawa ingatan kita kembali ke zaman Gereja Mula-mula, tidak lama setelah Pencurahan Roh Kudus 50 hari setelah kebangkitan Tuhan, di mana peningkatan jumlah anggota jemaat berlangsung begitu pesat. Kisah Para Rasul 2:41-47 menggambarkannya demikian:

41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.
42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.
43 Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda.
44 Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,
45 dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,
47 sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Dari ayat-ayat di atas dapat disimpulkan bahwa hal yang pertama dan utama yang menarik orang-orang luar untuk datang mendekat dan akhirnya masuk menjadi anggota Gereja bukanlah ajaran Kristiani, khotbah para rasul, bahkan bukan pribadi Kristus sendiri, melainkan cara hidup para anggota jemaat di kala itu.
Jemaat Gereja Mula-mula


Pola hidup yang ditunjukkan jemaat Gereja Mula-mula ini mencakup: bertekun dalam pengajaran rasul-rasul (di mana ada kerendahan hati untuk menerima dan belajar firman Tuhan), persekutuan (di mana ada saling mengasihi dan saling menerima), memecah-mecahkan roti (di mana ada saling memberi dan membagi), dan doa (di mana ada komunikasi aktif dengan Allah baik dalam persekutuan maupun secara individual). Pola hidup semacam inilah yang membuat Gereja Mula-mula menjadi sebuah perkumpulan yang SANGAT MENARIK di mata masyarakat sekitar. "Dan mereka disukai semua orang" (ayat 47b). Dan konsekuensi wajarnya, selalu ada saja yang tertarik untuk bergabung. "Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan" (ayat 47c)

Bandingkanlah sekarang dengan gereja di mana Anda rutin beribadah: masih adakah Anda dapati pola hidup semacam ini di dalamnya? Apakah gereja Anda masih merupakan sesuatu yang "menarik" bagi masyarakat sekitar?



Pada kasus-kasus tertentu, warga jemaat memilih meninggalkan gerejanya karena melihat hal-hal yang dipersepsikan sebagai "ketidakberesan" di dalam gereja tersebut, entah itu dalam hal ajaran (doktrinal), tata kelolanya (administratif), atau bahkan sikap gembala sidangnya (behavioral) yang dirasa tidak membangun jemaat.

Beberapa gereja mainstream di Amerika bahkan sudah jelas-jelas menyimpang dari prinsip Alkitabiah dan ikut arus dengan kebijakan resmi pemerintah Obama yang mendukung aborsi dan perkawinan sesama jenis, dan mengkriminalisasi kelompok-kelompok Kristen yang menentang hal-hal itu. Bahkan ada gereja tertentu yang menyimpang sangat jauh dan menerapkan "inklusivisme religius" dengan mengundang masuk kelompok-kelompok agama lain, dan mempersilakan mereka menerapkan ritual-ritual mereka di dalam gereja, dan liturgi gerejanya justru disesuaikan dengan ritual-ritual tersebut.

Di lain pihak, ada kelompok-kelompok Kristen yang tetap teguh berpegang pada firman Allah, dengan lantang menyuarakan penentangan terhadap hal-hal yang tidak alkitabiah, serta menyerukan pertobatan dan peringatan bahwa Hari Tuhan, yakni Akhir Zaman, sudah dekat, dan kedatangan Sang Mesias, Raja di atas segala raja, Tuhan Yesus Kristus, sudah di ambang pintu.


Berbicara tentang tanda-tanda Akhir Zaman, dalam hal ini yang diuraikan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 24:3 dst., Markus 13:3 dst., dan Lukas 21:7 dst., biasanya orang lebih berfokus pada hal-hal seperti deru perang (Matius 24:6), penyakit sampar dan kelaparan (Matius 24:7), tanda-tanda yang dahsyat di langit (Lukas 21:11,25), dan mengabaikan fakta bahwa di saat menjawab pertanyaan murid-murid tentang tanda-tanda menjelang kedatangan-Nya, hal pertama yang disebut Tuhan Yesus adalah penyesatan. "Jawab Yesus kepada mereka: "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!" (Matius 24:4). Kata-Nya pula: "Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang. ...  Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga" (Matius 24:5, 24). Inilah yang nyata-nyata terlihat, bukan? Ajaran yang menyimpang dari Alkitab makin menggejala di sejumlah gereja di Indonesia. Akibatnya, warga jemaat yang merasa tidak nyaman dengan kesesatan-kesesatan itu, terlebih mereka yang mengetahui kebenaran Alkitab, memilih keluar meninggalkan gereja tersebut; sementara mereka yang betah terus berada di sana, makin terlarut dalam gelombang kesesatan di dalamnya.

Rasul Paulus juga memperingatkan demikian: "Sebab sebelum Hari itu [Akhir Zaman] haruslah datang dahulu murtad... " (2 Tesalonika 2:3) Dengan kata lain, salah satu tanda menjelang Akhir Zaman adalah kemurtadan besar-besaran dan meluas di kalangan umat percaya, mengiringi tanda-tanda lainnya (perang, kelaparan, penyakit sampar, gempa bumi, tanda-tanda yang dahsyat di langit dll.) dengan frekuensi dan intensitas yang makin meningkat. Berlawanan dengan sikap orang-orang dunia yang cenderung menanggapi situasi dunia yang demikian dengan ketakutan dan kebingungan, kita yang telah diselamatkan dalam Yesus justru seharusnya mengantisipasinya dengan sukacita dan pengharapan, oleh karena sabda Tuhan ini: 

"Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat." 

Amen, MARANATHA!



No comments:

Post a Comment