Wednesday, December 2, 2015

BERANI MENYEBUT NAMA YESUS DI DEPAN UMUM?


Saat kita pertama kali berkenalan dengan seseorang, apa yang pertama kali kita sebutkan? Nama diri kita, tentunya. Dalam situasi formal atau dalam konteks bisnis, kita biasanya memberikan/saling bertukar kartu nama. Hal ini bertujuan supaya kita, sebelum berkomunikasi lebih lanjut, dapat memastikan bahwa lawan bicara kita mengenal/tahu identitas diri kita, sehingga komunikasi menjadi lebih efektif. Sebuah nama mewakili pribadi sang pemilik nama. Saat membicarakan seseorang, kita menggunakan nama orang tersebut, sehingga lawan bicara kita tahu siapa yang kita maksudkan. Jika pun kita tidak mengetahui nama orang tersebut, kita akan "menciptakan" nama/sebutan sendiri bagi orang itu. Begitu pentingnya sebuah nama.

Dalam kaitan dengan iman Kristiani kita, suatu "nama" pun dapat menjadi penanda iman itu. Kita tidak beriman kepada sekumpulan doktrin yang diajarkan seorang nabi atau pendiri agama. Kita beriman kepada suatu Pribadi, dan Pribadi itu memiliki nama. Yesus Kristus.


Selaku umat percaya, yang sudah ditebus dengan darah Kristus -- dan karenanya, menjadi milik Allah -- kita semua menyandang satu Nama yang sama, yaitu Nama di atas segala nama -- YESUS. Nama itu terpatri di dalam jiwa dan roh kita, walau tidak selalu nampak secara fisik. Beberapa orang berusaha menunjukkannya melalui berbagai asesoris "kristiani" seperti kalung salib, bros berbentuk salib, atau bahkan tato bermotifkan salib. Apapun itu, kita semua yang mengaku percaya, sesungguhnya telah "ditempeli", dicap, dimeterai, dengan Nama Yesus.

Seringkali, nama bukan hanya sekedar merupakan sebutan atau penunjuk identitas diri. Lebih dari itu, suatu nama dapat mewakili diri pribadi sang pemilik nama. Misalnya, jika seorang penguasa memberi perintah atau misi khusus kepada bawahan-bawahannya, dan mereka menjalankan tugas yang diberikan, maka dapat dikatakan: mereka bertindak atas nama sang penguasa. Jika ada dari kalangan rakyat yang menolak atau membangkang, maka penolakan atau pembangkangan itu bukan ditujukan kepada para bawahan itu, melainkan langsung kepada sang penguasa.


Bisa jadi orang Kristen tidak menyadari bahwa nama Yesus adalah nama yang PENUH KUASA. Bukan artinya rangkaian huruf Y-E-S-U-S itu yang mengandung kuasa, melainkan oleh karena di belakang nama itu berdiri Sang Pribadi yang telah bersabda: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi" (Matius 28:18).
Seharusnya kita BANGGA di saat menyebut nama yang agung itu di hadapan orang lain, termasuk mereka yang tidak seiman. Namun kenyataannya, alih-alih merasa bangga, banyak dari kita justru terkesan MALU menyebut nama itu di depan orang. Mengapa bisa demikian?

Siapa tidak kenal AGNES MONICA? Mantan penyanyi cilik yang sekarang sudah go inernational itu, seperti kita tahu, selalu membuka setiap public speech-nya, terutama di saat menerima suatu penghargaan (award) di bidang musik, dengan ucapan syukur dan terima kasih kepada TUHAN YESUS. Nama yang agung itu disebutkannya dengan jelas dan lantang di hadapan semua orang yang mendengarnya. Dan hal itu bukan saja dilakukannya di Indonesia, tapi juga di luar negeri, seperti terlihat pada video di bawah ini (perhatikan pada 1:30):\


 

Adakah suatu kebetulan jika karirnya terus menanjak? Sesungguhnya Tuhan kita menghormati barangsiapa yang juga menghormati dan mengakui nama-Nya di hadapan manusia, dan yang jujur berterus terang bahwa segala prestasi dan pencapaiannya bukanlah karena kuat kuasanya sendiri, tapi atas anugerah-Nya semata; dan Tuhan tidak segan-segan meng-'angkat' orang yang demikian, dalam segala hal.

Sungguh disayangkan, bahwa hal yang berlawanan justru banyak ditemui di kalangan kita orang-orang percaya. Alih-alih menyebut nama Tuhan kita YESUS KRISTUS dengan jelas dan tanpa ragu-ragu di hadapan orang lain khususnya yang tidak seiman, sebagai satu-satunya Pribadi yang menjadi Sumber segala yang baik dalam hidup, banyak dari kita lebih suka 'menyamarkan' nama-Nya dengan sebutan yang sangat umum seperti 'Tuhan' atau 'Yang Maha Kuasa', atau 'Tuhan yang Maha Esa'. Padahal kita tahu sebutan yang demikian banyak digunakan pula oleh umat beragama lain, untuk menyebut 'Tuhan' yang mereka pahami menurut ajaran mereka sendiri.

Apakah sebenarnya yang menghalangi kita untuk terang-terangan menunjukkan identitas dari Dia yang kita sembah? Apakah karena kita merasa inferior sebagai kalangan minoritas dari segi jumlah? Atau, lebih buruk lagi, karena kita sebenarnya kurang mempercayai Dia sebagai Penopang hidup kita yang satu-satunya, sehingga malu mengakui Dia di hadapan orang lain?

Ingatlah perkataan Yesus yang jelas-jelas mengecam pengikut-Nya yang malu mengakui Dia di hadapan manusia:

"Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 10:32-33)

Pikirkanlah dengan jernih: Adakah hal yang lebih penting bagi kita dari pada diakui oleh Yesus di hadapan Bapa di sorga? Bukankah segala hal yang kita anggap penting selama hidup kita yang fana, akan menjadi tidak berarti apa-apa apabila sesudah mati, kita tidak diakui di hadapan takhta Allah yang Maha Kuasa?


Beberapa orang mungkin berdalih: mereka menahan diri untuk tidak menyebut nama Yesus secara terang-terangan demi menjaga perasaan orang lain yang tidak seiman. Ya, sekilas mungkin alasan ini dapat dimengerti. Pertanyaannya adalah: apakah alasan itu dapat dibenarkan? Adakah kita lebih suka mengorbankan perasaan Dia yang sudah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita, demi perasaan orang lain yang mungkin tidak pernah mengorbankan apapun  untuk kita?

Bagaimana dengan Anda? Masihkah Anda ragu-ragu menyebut nama YESUS dengan jelas dan terang di depan kawan-kawan Anda yang tidak seiman, di saat menceritakan kebaikan-Nya dalam hidup Anda?
Alkitab berkata demikian :

Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! (Mazmur 105:1)

Masihkah kita ragu-ragu untuk memasyhurkan Nama-Nya?

No comments:

Post a Comment