Wednesday, September 21, 2016

"LAW OF ATTRACTION" - KESESATAN KUNO DALAM KEMASAN NODERN

Anda pernah dengar istilah “Law of Attraction”? Secara harafiah diterjemahkan sebagai “Hukum Tarik-Menarik”, juga dikenal sebagai “The Secret” (Rahasia), atau “New Thought” (Gagasan Baru), istilah ini mengacu pada suatu gagasan bahwa kita selaku pribadi memiliki hubungan dengan suatu “sumber energi universal”, dan bahwa pikiran dan perasaan kita memiliki kemampuan untuk memanipulasi “energi universal” ini sesuai keinginan kita. Menurut “Law of Attraction”, pikiran dan perasaan kita dapat menarik energi positif ataupun negatif, tergantung pada apa yang kita pikirkan atau rasakan, entah positif atau negatif. Ide dasar yang terkandung dalam “Law of Attraction” adalah bahwa kita semua punya kemampuan untuk menentukan takdir dan masa depan kita sendiri, menciptakan kenyataan hidup kita sendiri, menjadi dan memiliki apapun yang kita inginkan, dengan cara menerapkan konsep “Law of Attraction” ini di dalam pikiran kita sepenuhnya secara konsisten, terus menerus.

Definisi Google tentang “Law of Attraction” adalah: “suatu kepercayaan bahwa “suka menarik suka” (like attracts like), dan bahwa dengan berfokus pada pikiran-pikiran yang positif ataupun negatif, seseorang dapat mencapai hasil yang juga positif atau negatif”. Melalui penyelidikan lebih mendalam atas kepercayaan ini, dapat terungkap bahwa “Law of Attraction“ berakar pada kepercayaan bahwa manusia dan  pikirannya terdiri dari energi murni yang dapat menarik energi yang sama.

Istilah “Law of Attraction” sendiri baru muncul dan mulai digunakan pada akhir 1800-an, tapi mulai populer melalui film “The Secret” (2006). dan sebuah buku yang diterbitkan dengan judul yang sama, di mana diajarkan bahwa “apapun yang diinginkan atau diperlukan seseorang dapat terpuaskan dengan mempercayai suatu akibat, dengan memikirkannya berulang-ulang, dan mempertahankan suatu kondisi emosional yang positif demi “menarik” akibat yang diinginkan itu”.

Harus diakui, ada “sedikit” kebenaran di dalam “Law of Attraction” ini, walau sayangnya pada perkembangannya menjadi tidak alkitabiah dan juga tidak logis. Misalnya, ia mengajarkan bahwa pikiran positif ataupun negatif kita dapat mempengaruhi kesehatan fisik kita. Ini memang benar, dan ilmu kedokteran pun telah membuktikannya, karena stress dan kecemasan yang berkelanjutan memang berpengaruh buruk pada kesehatan, sementara kegembiraan dan suasana hati yang damai dapat mempercepat penyembuhan dari suatu penyakit. Bahkan jauh sebelum ilmu kedokteran modern, Alkitab sudah menyatakan hal ini (misalnya Amsal17:22). Namun hal ini terjadi oleh karena memang demikianlah cara Allah merancang tubuh kita, dan bukan karena adanya “hubungan” antara kita dengan suatu “energi universal”, atau adanya tarik-menarik antara pikiran positif atau negatif kita dengan “hasil” positif atau negatif yang mempengaruhi kita secara fisik.

Kesalahan kedua dari “Law of Attraction” adalah penekanannya pada harta kekayaan. Alkitab banyak berbicara mengenai kekayaan dan cara mengelolanya (Amsal 13:11, 17:16, 22:7, dll.). Pencapaian finansial kita adalah melalui kerja keras disertai pengelolaan keuangan secara bijaksana. Satu-satunya pengaruh nyata dari “pemikiran positif” adalah untuk mendorong kita bekerja lebih keras dan lebih berhati-hati dalam hal pengeluaran.Sesungguhnya, memusatkan pikiran semata-mata pada kekayaan justru bertentangan dengan ajaran Alkitab (Pengkhotbah 5:10, Lukas 12:15, 2Timotius 6:10).

Kesalahan mendasar dari “Law of Attraction” adalah pandangannya mengenai Allah. Baginya, Allah (kalaupun Ia ada) tak lebih dari suatu “energi universal” yang dapat dimanipulasi oleh pikiran ataupun perasaan kita. Pandangan “Law of Attraction” tentang Allah pada dasarnya bersifat panteistik (semua adalah Allah), dan menolak konsep tentang Allah sebagai satu Pribadi yang Berdaulat dan mengendalikan segala sesuatu; sebaliknya, konsep “Law of Attraction” adalah bahwa kitalah yang mengendalikan hidup kita sendiri dalam segala seginya. Alkitab justru mengajarkan sebaliknya (Mazmur 139:16, Daniel 4:34-35).

Bahkan ada sebuah situs pro “Law of Attraction” yang mencoba menerapkan konsep (yang seolah-olah) alkitabiah, dan menerangkan bahwa konsep “Law of Attraction” itu sendiri sebenarnya bersumber dari Alkitab! Situs ini antara lain mengutip kata-kata Tuhan Yesus dalam Markus 11:24 dan menafsirkannya sebagai memuat konsep “Law of Attraction”. Juga ajaran-ajaran Tuhan Yesus lainnya mengenai kuasa doa dan iman, sebenarnya tidak lain adalah konsep “Law of Attraction” juga. Penyesatan yang nyaris sempurna! “Nyaris”, karena situs ini sama sekali tidak mengutip ayat semacam Yakobus 4:3, yang secara gamblang menyatakan bahwa doa yang sangat terkonsentrasi sekalipun, penuh “iman” sekalipun, takkan berbuah apa-apa jika bertentangan dengan kehendak Allah.

Dalam pandangan “Law of Attraction”, kita semua adalah “inkarnasi Allah”, bahkan kita adalah allah-allah bagi diri kita sendiri, yang mampu mengendalikan kenyataan dan masa depan kita sendiri. Kebohongan ini bukanlah suatu hal baru, bahkan inilah kebohongan pertama dan utama yang dipakai iblis untuk menyesatkan manusia. yakni bahwa manusia mampu mencapai “pengetahuan” yang menjadikannya sama seperti Allah (Kejadian 3:5). Bahkan iblis sendiri jatuh karena hal yang sama (Yesaya 14:13-14, Wahyu 20:10).

Konsep dari kekuatan pikiran yang diajarkan “Law of Attraction” ini bukanlah hal baru. Kisah di dalam Kejadian3:1-5 mengacu kepada konsep ini. Yang “ditawarkan” iblis kepada Hawa adalah semacam pengetahuan supranatural, yang kita ketahui kemudian ternyata berubah menjadi kutukan yang mendatangkan maut bagi manusia. Pertanyaannya adalah: benarkah manusia memiliki kekuatan di dalam pikirannya yang dapat menyebabkan perubahan secara supranatural?

Atas pertanyaan ini, Alkitab memberi jawab demikian: Segala kuasa ditentukan oleh Allah dan tunduk pada Allah (Ayub 1:12, Mazmur 147:5, Matius 28:18, Yohanes 19:11, Roma 8:38-39, 13:1, Efesus 3:1-12, Kolose 1:13-17, 2:15, 1 Petrus 3:22, Yudas 1:25). Pikiran manusia tidak memiliki kekuatan supranatural apapun pada dirinya sendiri (Ulangan8:14-18, Lukas 8:22-25, Efesus 2:1-7, 6:10-13, 2 Petrus 1:3).  Segala kuasa manusia hanya dapat diperolehnya dari Allah (Mazmur 68:35, Amsal 3:27, Pengkhotbah5:19, Yesaya 40:27-31, Zakharia 4:6, Markus 6:7, Lukas 24:49, Yohanes 1:12, Kisah 1:7-8).

Walaupun demikian, “Law of Attraction” mengajarkan baik secara terbuka maupun secara rahasia, hal-hal seperti: meditasi (terpisah dari firman Allah), yoga, kekuatan dari berpikir positif, “pikirkan dan jadilah kaya” (think and grow rich), psikoterapi kontemplatif, dll., yang sebenarnya bukanlah konsep-konsep baru, melainkan hanya didaur ulang dan diberi nama-nama baru, sehingga mudah diterima di kalangan masyarakat yang lebih luas; walaupun sudah banyak pula penelitian yang membuktikan bahwa konsep-konsep ini paling banter hanya memberi keyakinan palsu kepada orang-orang bahwa mereka memiliki kemampuan melakukan hal-hal yang membantu mereka “mencapai potensi terbaik” mereka. Alkitab menyebut praktek-praktek semacam ini tidak lain adalah “penyembahan kepada setan-setan” (1Korintus 10:20-21, I Timotius 4:1), yang selayaknya dihindari oleh orang Kristen.

“Law of Attraction” yang sedemikian menarik kemasannya karena mengajarkan bahwa manusia memiliki “kuasa” untuk menciptakan peristiwa-peristiwa yang bersifat supranatural melalui pikiran yang terkonsentrasi kepada sesuatu hal tertentu, sesungguhnya tidak lain adalah penyembahan kepada roh-roh jahat yang sudah berlangsung dan dipraktekkan sejak zaman kuno, namun diberi bentuk, nama dan kemasan baru.

Kebenaran yang sesungguhnya adalah: segala sesuatu ada dalam kendali Allah. Bagian kita adalah menyelaraskan diri kita dengan Allah, berusaha mengerti isi hati-Nya dan mengenal kehedak-Nya. Ketimbang mengejar kekayaan, ketenaran, kekuasaan dan kesenangan duniawi, seperti yang diajarkan oleh “Law of Attraction”, lebih baik kita mencari hubungan dengan Allah, dan membiarkan Dia menempatkan keinginan hati-Nya ke dalam hati kita, sehingga pikiran kita dapat bersesuaian dengan pikiran-Nya (Mazmur 37:4-6).

Sumber kuasa yang sesungguhnya bukanlah pada pikiran, sebagaimana diajarkan dalam “Law of Attraction”, melainkan pada Allah Yang Maha Tinggi, dan kita dapat memperolehnya dan digerakkan olehnya dengan perantaraan Roh Kudus, dan memampukan kita untuk melakukan segala sesuatu (Filipi 4:13), sesuai dengan kehendak Allah, demi mengekspresikan kasih kepada Allah dan sesama.

Tuhan Yesus memberkati kita sekalian, Amen!







No comments:

Post a Comment